Berapa Lama Proses Pending Desain Di Shutterstock
Halo, kreator-kreator handal! Bang Ikhwan di sini lagi, siap untuk berbagi cerita dan tips seputar dunia digital yang kadang bikin kepala cenut-cenut, tapi kalau udah paham, duit jajan bisa nambah. Kali ini, kita bakal ngobrolin sesuatu yang sering bikin para kontributor baru di Shutterstock deg-degan: PROSES PENDING.
Iya, tahap itu. Tahap di mana karya kita diteliti entah oleh mesin atau manusia, sementara kita cuma bisa menunggu dengan hati berdebar, antara harap dan cemas. Buat kalian yang baru mau mulai jualan gambar atau video di platform mikrostock terkemuka ini, pasti pernah ngalamin atau minimal kepikiran: “Kira-kira berapa lama ya pendingnya? Kok lama banget? Apa nih yang salah?”
Berdasarkan obrolan dan eksplorasi di beberapa kanal resource, terutama dari konten kreator Ahmadi (yang gayanya santai dan mudah dicerna), mari kita kupas tuntas tentang fase peninjauan Shutterstock ini. Siapkan kopi dan cemilan, karena bahasannya akan cukup panjang, tapi dijamin nyantai!
A. Proses “Pending”: Ujian Kesabaran Pertama Sebagai Kontributor
Saat kamu mengklik “Upload” dan mengirimkan file pertama kamu ke Shutterstock, selamat! Kamu telah memasuki ruang tunggu virtual. Status “Pending” itu seperti tiket antrian di bank, bedanya kita nggak tahu nomor antrian kita.
Secara resmi, Shutterstock bilang proses review ini bisa makan waktu sampai 5 hari kerja. Tapi, jangan langsung pasang patokan itu di hati. Kenyataannya, ini sangat fleksibel dan bergantung pada beberapa faktor kunci.
1. Akun Aktif vs. Akun Baru (Pemula):
· Bagi para kontributor yang sudah aktif dan rutin mengunggah setiap hari, prosesnya seringkali lebih cepat. Sistem dan tim mungkin sudah “kenal” dengan kualitas dan konsistensi kamu, sehingga review berjalan lebih lancar. Bayangkan seperti pelanggan langganan di warung kopi, pesanannya lebih cepat tahu.
· Nah, khusus untuk KONTRIBUTOR BARU yang pertama kali mengunggah, bersiaplah untuk ujian kesabaran ekstra. Prosesnya bisa molor menjadi sekitar 1 minggu hingga 8 hari. Kenapa? Ini adalah fase screening yang sangat ketat. Tim profesional Shutterstock sedang menilai apakah kamu, calon kontributor, layak dan memenuhi standar mereka. Ini seperti tes masuk perguruan tinggi favorit, file pertama kamu adalah berkas administrasi dan esai yang dinilai dengan sangat saksama.
2. “Tuduhan” vs. Kenyataan: Banyak yang bilang Shutterstock sengaja memperlambat review untuk pemula. Sebenarnya, lebih tepat disebut sebagai proses kurasi yang ketat. Mereka ingin menjaga kualitas database mereka. Jadi, jangan langsung nyalahin sistem. Anggap saja ini proses quality control untuk memastikan hanya konten terbaik yang masuk ke pasar.
B. Setelah Pending: “Approved” atau “Rejected”?
Setelah menunggu dengan sabar (atau mungkin sambil gelisah), ada dua kemungkinan hasil yang akan kamu temui di menu Review:
· STATUS: APPROVED -> HOREE! Karya kamu diterima. Langsung dirayakan dengan es teh manis! Karya kamu kini hidup di marketplace Shutterstock dan siap dibeli oleh klien dari seluruh dunia.
· STATUS: REJECTED -> Hiks, ditolak. Jangan sedih! Ini BUKAN akhir dari segalanya. Malah, ini adalah PELAJARAN BERHARGA.
Poin paling krusial di sini adalah: BACA ALASAN PENOLAKANNYA! Shutterstock biasanya memberikan alasan spesifik mengapa sebuah konten ditolak. Misalnya: “Focus Issues”, “Noise/Grain”, “Poor Lighting”, “Property Release Needed”, atau “Not Commercially Viable”.
Mengabaikan alasan ini sama saja dengan mengulangi kesalahan yang sama berulang-ulang. Belajarlah dari setiap penolakan. Ambil fotonya lagi, edit ulang, atau pahami konsep komersial yang mereka cari. Rejection adalah guru terbaik di dunia mikrostock.
C. Strategi Jitu untuk Pemula: Menang Sebelum Bertanding
Nah, dari obrolan dengan para kreator yang sudah berpengalaman seperti Ahmadi, ada beberapa tips emas untuk meningkatkan peluang lolos, terutama untuk unggahan pertama:
UNGGAHLAH KONTEN YANG PELUANG DITERIMANYA LEBIH TINGGI!
Ini bukan soal mengurangi kualitas, tapi tentang memahami pasar dan kemudahan teknis. Untuk kontributor pemula, sangat disarankan untuk memulai dengan menjual DESAIN BACKGROUND atau ilustrasi vektor sederhana, dibandingkan langsung dengan FOTO.
Kenapa?
1. Kontrol Penuh: Dengan desain (misalnya di Adobe Illustrator atau Canva), kamu punya kontrol 100% atas komposisi, warna, cahaya, dan kebersihan file. Nggak ada masalah noise karena ISO tinggi, atau blur karena goyang kamera.
2. Kebutuhan Pasar Tinggi: Background yang bersih, modern, dan serbaguna (polos, tekstur, dengan ruang untuk teks) selalu dicari untuk presentasi, website, atau iklan digital.
3. Minimal Masalah Teknis: Desain yang rapi dengan outline yang clean cenderung lebih mudah lolos review teknis (fokus, noise) dibanding foto yang membutuhkan keahlian ekstra dalam pengambilan dan pengeditan.
Dengan strategi ini, kamu bukan hanya meningkatkan peluang karya pertama kamu APPROVED, tapi juga membangun kepercayaan diri dan reputasi awal di mata sistem Shutterstock. Setelah akun kamu “go-live” dengan beberapa konten diterima, proses upload selanjutnya biasanya akan lebih mulus.
D. Jangan Berhenti Belajar! Eksplorasi Sumber Ilmu Lainnya
Dunia mikrostock itu dinamis. Selalu ada hal baru yang dipelajari. Untungnya, banyak konten kreator yang dengan ikhlas berbagi ilmu. Seperti yang disebutkan Ahmadi:
· YouTube Playlist Khusus: Cari channel YouTube yang membahas Shutterstock secara khusus. Biasanya ada playlist terstruktur, mulai dari pendaftaran, tips fotografi/desain untuk stok, keyword, hingga strategi penjualan. Belajar dari pengalaman orang lain itu gratis dan sangat berharga.
· Blog Panduan Lengkap: Ada blog-blog khusus mikrostock pemula, contohnya microstockerpemula.blogspot.com (situs ini disebutkan sebagai resource). Blog seperti ini seringkali berisi artikel mendetail, step-by-step, mulai dari cara setting kamera, properti model, jenis file, hingga analisis tren. Jadikan sebagai buku panduan digital kamu.
Saran dari Bang Ikhwan
Jadi, teman-teman kreator, proses Pending di Shutterstock itu adalah gerbang awal. Memang, bagi pemula, gerbang ini terasa berat dan lama. Tapi, ingatlah bahwa ini adalah investasi untuk memastikan kamu menghasilkan karya yang benar-benar berkualitas dan bisa bersaing di pasar global.
Jangan jadikan penolakan sebagai penghalang, tapi sebagai pijakan untuk melompat lebih tinggi. Mulailah dengan konten yang lebih terkontrol seperti desain, pelajari setiap alasan penolakan, dan teruslah belajar dari berbagai sumber.
Yang paling penting, konsistensi dan kualitas adalah kunci. Setelah melewati fase awal yang berat, akun kamu akan menjadi lebih “lincah”. Upload akan lebih lancar, review mungkin lebih cepat, dan yang paling indah: royalti pun akan mulai mengalir, sedikit demi sedikit.
Seperti kata Bang Ikhwan: “Di dunia digital, sabar itu perlu, tapi action dan belajar itu wajib. Nggak ada sukses yang instan, yang ada cuma mie instan. Tapi buat bayarin mie instan aja, kita butuh usaha. Yuk, mulai upload!”
Selamat berkarya, dan semoga konten-konten kalian segera berstatus APPROVED semua!


0 Response to "Berapa Lama Proses Pending Desain Di Shutterstock "
Posting Komentar